Guru Mendidik dengan Ilmu dan Mengajar dengan Hati

 



Guru Mendidik dengan Ilmu dan Mengajar dengan Hati

Peran guru saat ini sangatlah dibutuhkan, bukan hanya membuat perubahan tetapi juga dalam mengawal jalannya perubahan. Manusia-manusia cerdas, berakhlak, mampu berkreasi serta berinovasi merupakan produk para guru. Mereka terus mengembangkan dan mengupgrade pengetahuannya sehingga mereka mampu mencipta dengan menghasilkan sebuah karya.

Bagaimana dengan para guru itu sendiri? Apakah mereka juga harus mengupgrade pengetahuannya sehingga tetap kekinian? Jawabannya tentu saja iya, karena apabila mereka tidak mengupgrade pengetahuannya maka mereka akan tertinggal, baik oleh kemajuan tekhnologi yang semakin pesat, perkembangan social budaya yang semakin mendunia dan lain sebagainya. Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru harus dapat diaplikasikannya dalam proses kegiatan belajar mengajar, baik secara daring maupun luring atau bahkan kolaborasi diantara keduanya.

Guru dalam melaksanakan tugasnya harus mempunyai pedoman. Inti dari pedoman yang harus dijadikan pegangan oleh para guru di Indonesia adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kemudian dijabarkan kembali oleh peraturan yang berada dibawahnya seperti UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen serta peraturan-peraturan lainnya.

Hal lain yang perlu dijadikan pedoman bagi para guru adalah tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Menurut Ki Hajar Dewantara, Dalam pendidikan perlu meningkatkan daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (psikomotor). Singkatnya “educate the head, the heart, and the hand”.

Upaya mengembangkan ketiga daya tersebut secara bersamaan merupakan proses humanisasi dalam pendidikan atau disebut memanusiakan manusia. Dengan kata lain mendidik manusia guna mencapai sisi kemanusiaan yang luhur.

Metode yang sesuai dengan system pendidikan ini adalah metode among yaitu asah, asih dan asuh. Pelaksanaan pendidikannya dapat berlangsung di berbagai tempat. Ki Hajar Dewantara menyebutnya dengan Tri Sentra Pendidikan yang antara lain alam keluarga (pendidikan informal), alam perguruan (pendidikan formal) dan alam pergerakan pemuda (pendidikan non formal).

Selama hidupnya, Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis produktif tentang pendidikan, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari jaman penjajahan Belanda. Beliau juga mendirikan Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi warga pribumi jelata agar bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi atau orang-orang Belanda.

Ada tiga ajaran penting dari Ki Hajar Dewantara, yaitu:

  • Ing Ngarso Sun Tulodho, yang berarti di depan (pimpinan) harus memberi teladan.
  • Ing Madyo Mangun Karso, yang bermakna di tengah memberi bimbingan.
  • Tut Wuri Handayani, yang mengandung arti di belakang memberi dorongan.

Mari kita bersama-sama mendidik dengan ilmu dan hati untuk mewujudkan Merdeka Belajar. Selamat Hari Guru Nasional dan selamat hari KORPRI 2021. Maju terus pendidikan Indonesia.


Artikel ini juga telah tayang di :

https://www.kompasiana.com/sigidpn/61a4e3208ab1f154a3518964/mendidik-dengan-ilmu-dan-mengajar-dengan-hati


0 Komentar